“Winda…”, sebuah suara memanggil. Javsubindo “Pak…!”, rintihku memelas. Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi…, aku *****ik keras sambil menjambak rambutnya. “Pak…, aku tak tahan lagi…!”, aku memelas sambil menggigit bibir. “Idih jahat banget!”. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada. Aku bisa jalan sendiri koq!”, Aku masih mencoba menolak dengan halus. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Sungguh ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Tapi apa peduliku?Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan




















